# sebuah cerita, enjoy. #
Kantin yang biasanya tidak terlalu ramai disore hari, entah kenapa hari ini cenderung lebih. ramai dari biasanya. Banyak mahasiswa yang sibuk mengerjakan tugas, bermain catur, atau sekedar tertawa-tawa dan mengobrol bersama teman-temannya. Dimeja paling pojok dekat tukang minuman, 4 orang mahasiswa angkatan 2008 sedang bermain kartu dengan serius sambil sesekali tertawa-tawa.
“Ya udahlah, jalanin aja!” ucap Sharah sambil mengerut-ngerutkan dahinya, sambil fokus pada kartu yang dipegangnya.
“Bener nih ya, jalanin aja yah,” lanjut Irene sambil juga berkonsentrasi pada kartunya, menyibak rambut lurus panjangnya sekilas, lalu mengeluarkan salah satu kartu yang dipegangnya.
“Yah ilaaah…” Farik menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat rambut keritingnya bergoyang. “tega banget sih lo sama gue, Rene…” ia menutup salah satu kartu yang dipegangnya diatas meja. Kemudian ia mengisap rokoknya.
“Loh, emang lo nggak punya, Rik?” Tanya Irene.
Farik menggeleng sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya. “Ya kagak, kalo punya sih ngapain gue nutup, neng?”
“Ya ilak, map deh..” lanjut Irene terkikik. “dinikmati aja ye Bang…”
“Sekarang giliran gue, yah…” Tasha tampak serius memilih-milih kartunya, lalu mengeluarkan sebuah kartu dengan semangat.
Dilanjutkan oleh Sharah tanpa hambatan.
Irene kemudian mengeluarkan kartu As keriting, dan menutup tumpukan kartu keriting didepannya.
Farik menggaruk kepalanya panik. “Ampun deh Rene… Nyiksa banget sih lo?” ia kemudian menutup sebuah kartu yang dipegangnya. “lama-lama nih kartu gue tutup semua…”
“Kenyataan kadang-kadang emang kejam, Rik…” jawab Irene asal.
“iye,” ujar Farik. “apalagi kalo tuh kenyataan terjadi gara-gara elo,”
Seorang cewek bertubuh mungil dan berkacamata menghampiri mereka. “Lagi main apaan?”
“Seven spade,” jawab Sharah cepat sambil menaruh kartunya. “giliran lo, Rene,”
“Ah, kancuut…” umpat Irene. Ia kemudian menutup salah satu kartunya.
“Karma emang ada dimana-mana Rene…” balas Farik tertawa puas sambil menaruh sebuah kartu. Ia kemudian kembali mengisap rokoknya.
Cewek mungil itu hanya diam dan memperhatikan mereka bermain kartu.
“Mau ikutan main, Za?” Tanya Sharah pada cewek itu.
Stiza mengangguk.
“Abis ini yah,” ucap Tasha. “Nanggung soalnya kalo sekarang… nggak apa-apa, kan?” tanyanya lagi dangan wajah yang tidak enak.
“Ya ampun, nggak apa kok Tash…” jawab Stiza sambil tertawa melihat Tasha yang sangat polos.
Tasha kemudian tersenyum dengan badannya yang maju-mundur ditempat dengan lunglai.
“Si Tasha kalo lagi kayak gitu lucu, ya?” ucap Sharah tiba-tiba. “coba kalo gue… udah deh, nggak ada lagi yang mau jadi temen gue,” ia kembali menaruh sebuah kartu.
“Iya emang,” lanjut Farik. “semua orang kabur gara-gara ngeliat ada orang Batak gila maju-mundur di kursi kantin,”
“Sialan lo,” umpat Sharah.
“Keluarin lagi dong tujuhnyaa…” komentar Irene. “kalo nggak ada yang ngeluarin bisa-bisa seumur idup gue nggak ngeluarin kartu lagi nihh…”
Farik menyeringai, lalu membuang abu dari rokoknya kelantai. “tau, keluarin aja sih tujuhnya, kasian tuh si Irene…” ia kemudian mengeluarkan sebuah kartu.
Tasha lalu mengeluarkan kartu 7 keriting. “maaf ya… gue nggak sadar gue punya…”
“Dunia emang nggak adil,” komentar Sharah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengeluarkan kartu 6 keriting. “Tasha emang selalu dimaklumin, kalo gue…”
Irene mengeluarkan sebuah kartu akhirnya.
“Emang faktor orangnya aja kali Shar…” tambah Farik. Ia mengeluarkan karu As wajik dan menutup barisan kartu wajik.
“Aaastaga Rik…” Tasha menggeleng-gelengkan kepala. “kartu gue kan belum keluar semua yang ituu.. tega deh…”
Farik menghembuskan asap rokok dari mulutnya, “Yaah, maaf yah Tash.. abis gue nggak ada kartu lagi…” ucapnya dengan nada menyesal.
Tasha mengangguk-angguk kemudian menutup satu kartu.
“Gue pengen pesen martabak mie deh,” ujar Stiza kemudian. “mau nitip sesuatu?”
“Mau jus jambu pake lemon dong,” kata Sharah sambil mengeluarkan kartu.
Stiza mengangguk. “ada yang lain?”
Keempat temannya menggeleng. Stiza kemudian berjalan menuju tukang makanan dan memesan makan siangnya.
“Siapa yang kalah?” lanjut Stiza setelah memeasan makanan dan duduk kembali bersama teman-temannya.
“Yaah… liat aja siapa yang ngocok,” jawab Irene sambil menaikkan alisnya dan menganggukkan kepalanya ke arah Farik yang sedang menaruh rokoknya diujung meja, kemudian mulai mengocok kartu yang dipegangnya.
“Iye, gue kalah…” gumam Farik. “Seneng banget sih Rene kalo gue kalah?”
“Nggak apa-apa,” sahut Irene. “Cuma ada kepuasan batin aja. Hahaha…”
Farik menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tiba-tiba angin berhembus kencang menerpa gadis-gadis itu. Segera saja rambut mereka semua mendadak berantakan.
“Aduh, poni gue berantakan deh,” ujar Sharah sambil merapikan poninya dengan jari. Tiba-tiba ia mendengus tertawa. “Rene, poni lo naik semua tuh, udah kayak ibu pejabat,”
“Hah! Aduh gawat,” Irene langsung merapikan poninya dengan sisir yang dibawanya.
Tasha terkikik melihat kelakuan Irene.
“Jangan ngetawain gue Tash…” ujar Irene tiba-tiba. “Poni lo belah 11 tuh,”
“Hah?” tanpa banyak bicara, Tasha segera merapikan poninya yang dipotong rata diatas alis dengan jarinya. “sempurna kan sekarang?”
“Martabak mie sama jus jambunya Mbak,” Mas-mas si tukang makanan tiba-tiba membuyarkan pembicaraan mereka.
“Oh, iya Mas, makasih ya,” Stiza segera menerima makanan dari Mas tukang jual makanan, dan memberikan jus jambu pada Sharah.
“Eh Za, poni lo sekarang kok dijepit terus sih?” ujar Sharah tiba-tiba. “kalo nggak, pake bando,”
“Habisnya,” jawab Stiza sambil memotong-motong martabak mie yang baru diterimanya. “poni gue sekarang udah gondrong, kalo dilepas udah nabrak-nabrak mata, nggak enak banget. Dan gue belom sempet ke salon,”
“Sah elah,” Farik tiba-tiba ikut nimbrung. “potong poni aja pake di salon segala, gaya banget sih lo,”
“Ya kalo gue jago motong poni kayak si Irene sih nggak apa-apa motong sendiri,” balas Stiza. “Cuma masalahnya, gue tuh pasti berantakan kalo potong poni sendiri. Jadi daripada poni gue luluh lantah, ya mendingan gue kesalon. Lagian kan Cuma goceng,”
Farik mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya sih, mendingan jangan. Kalo yang jago motong poni aja hasilnya kayak gitu, gimana yang amatiran…”
“Heh, maksud lo apaan Rik?” tantang Irene. “poni gue jelek, gitu?”
“Nggak kok…” timpal Tasha dengan gaya yang lunglai seperti biasanya. “poni lo sempurna gitu…”
“Tuh kan Rik? Tuh kan?” ujar Irene senang. “mana mungkiiin Tasha bohoong…”
“Eeeh…” balas Farik. “Tapi gue ngerasa Tasha Cuma nggak mau nyakitin perasaan lo doang…”
“Terserah deh Rik, terseraaahh… gue mah percaya sama orang jujur Rik, bukan yang kayak elo…” ucap Irene kemudian. “lama-lama naksir lo, sama gue,”
“Lah,” Farik menginjak rokok dengan kakinya. “lo nggak tau, gue lagi nyiapin cincin buat ngelamar lo besok?”
“Ya ampun Rik… romantis bangett…” Irene menggeleng-gelengkan kepalanya. “akhirnya setelah 19 tahun kita menjalin cinta, lo ngelamar gue juga…”
“Lebay deh lo berdua lama-lama,” potong Sharah. “capek gue, sampe lo berdua jadian, gue ngakak sampe pingsan,”
Tasha hanya terkikik, dan Stiza tetap konsentrasi pada makanannya.
“Kapan nih mulai main?” lanjut Sharah. “lama-lama tuh kartu ilang gambarnya, kebanyakan lo kocok Rik,”
Farik tersadar, kemudian segera membagikan kartu pada keempat temannya.
“Jangan bengong mulu makanya kalo idup, Rik…” lanjut Irene sambil menyeringai. “isilah dengan kegiatan yang bermanfaat seperti membagikan kartu…”
“Diem lo,” umpat Farik pada Irene. “bawel,”
..bersambung
Hancurkan hatiku, jangan hancurkan poniku
11:59 AM |
Subscribe to:
Post Comments (Atom)









1 komentar:
ini berdasarkan pengalaman pribadi ya?kok bisa hapal semua dialog nya gt?hehe...
Post a Comment